POLA TIDUR DAN STRESS PICU GULA DARAH TINGGI

Gula Darah Tinggi

Bagi sebagian orang menyukai mengerjakan tugas di malam hari. Atau barangkali karena memang mengalami kesulitan tidur sehingga memilih mengerjakan pekerjaan di malam hari. Sadarkah kita? Bahwa gangguan tidur dan tingkat stress berhubungan dengan Diabetes Melitus dan Picu Gula darah tinggi.

Sehingga kita perlu hati-hati apabila memiliki jadwal tidur yang kacau alias sering begadang. Tidak hanya berlaku bagi yang telah menderita diabetes melitus, akan tetapi hal ini juga berlaku bagi individu yang secara klinis memiliki kondisi tubuh yang masih sehat dan normal. Bukan tidak mungkin penyakit akan mudah menyerang, bahkan pada individu yang sudah gencar sekali menerapkan pola gaya hidup sehat rajin berolah raga, rajin periksa kesehatan, rajin mengatur pola makan, hingga menjaga efektifitas waktu istirahat masih seringkali rentan terkena penyakit. Apalagi individu yang tidak punya usaha yang bagus dalam mempertahankan kesehatan.

Tidak dapat dipungkiri tidur adalah kebutuhan pokok bagi setiap makhluk hidup untuk mempertahankan kualitas kesehatan. Tidur merupakan kondisi istirahat yang alami. Manusia menghabiskan sepertiga waktunya untuk tidur. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan atau pola hidup. Pada saat tidur fungsi saraf motorik dan juga fungsi saraf sensorik yang memerlukan koordinasi dengan sistem saraf pusat akan di blockade sehingga makhluk yang sedang tidur cenderung tidak bergerak dan daya respons pun menurun.

Dari sebuah penelitian disampaikan bahwa pola tidur berpengaruh terhadap gula darah dan hormon pengontrol nafsu makan. Tidur kurang dari 8 jam membawa pada peningkatan IMT (Indeks Massa Tubuh) yang berbanding lurus dengan banyaknya waktu tidur yang berkurang. Seseorang yang kehilangan waktu istirahat berupa tidur baik sebagian saja maupun total akan mengalami penghambatan kerja insulin dikarenakan terjadi peningkatan aktifitas saraf simpatik, kadar kortisol serta hormone pertumbuhan.

Tidur memiliki peran penting dalam mengatur produksi dan sensitivitas insulin, penggunaan serta toleransi glukosa terutama pada saat malam hari. Apabila hal ini terganggu maka risiko terjadinya diabetes melitus akan meningkat.

Itulah yang terjadi mengapa pola tidur dan tingkat stress saling berkaitan dan picu gula darah tinggi.

Kemudian dalam penelitian lain disebutkan juga bahwa pasien Diabetes Melitus Tipe 2 memiliki total waktu lama istirahat berupa tidur yang Panjang namun waktu tidur yang benar-benar lelap cenderung sedikit sehingga dapat disimpulkan bahwa efisiensi tidurnya atau kualitas tidurnya menjadi buruk. Hal tersebut disebabkan oleh karena Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 mengalami Poliuria dan nocturia yaitu sering buang air kecil pada malam hari. Mengakibatkan pasien harus terbangun saat terasa ingin buang air kecil berkali-kali disela-sela kegiatan tidur.

Kualitas tidur yang buruk memberikan dampak stress pada tubuh, tingkat stress akan lebih naik lagi dengan adanya perasaan terganggu dengan gejala diabetes berupa poliuri, polidipsi, dan nocturia yang secara umum dialami oleh penderita Diabetes Melitus. Dalam kondisi seperti ini peran keluarga sangat penting karena keluarga adalah sebuah sistem support yang dibutuhkan. Sebagai Support sistem otomatis ketika mengambil sikap acuh tak acuh, cuek, atau bahkan memberikan tekanan pada penderita diabetes akan membuat penderita diabetes semakin stress akhirnya memicu gula darah naik. Yang dibutuhkan penderita diabetes adalah keluarga yang  dapat membantu mengurangi stress yaitu dengan cara memotivasi, memberikan simpati dan empati, bahkan membantu menemukan solusi terbaik. Dengan begitu gula darah tinggi tidak semakin naik dan diabetes melitus pun terkendali.